Repressi

Repressi adalah mekanisme diri untuk "melupakan" semua trauma ataupun rasa sakit masa lalu. Pengalaman hidup  yang luar biasa menyakitkan bagi seseorang itu dapat ditekan sampai ke alam bawah sadar dan memunculkan perilaku tertentu. Melupakan secara taksadar keberadaan sesuatu yang membuat kita merasa tidak nyaman atau sakit. Repressi merupakan mekanisme pertahanan diri yang paling fundamental dan paling sering digunakan. Misalnya kasus seorang pria menekan rasa marah kepada kawannya selama hidupnya karena rasa marah dan melahirkan kecemasan yang  sangat besar.

Repressi dapat bekerja pada ingatan situasi atau orang. Saat repressi sudah  bekerja, sulit untuk dilenyapkan. karena kita menggunakan repressi untuk melindungi diri  sendiri dari bahaya. Untuk melepaskannya, kita harus tahu bahwa ide atau ingatan tersebut tidak lagi bahaya. 

Contoh lain, seorang anak yang menjadi korban kekerasan fisik oleh orangtuanya ketika masih kecil, bisa saja lupa dengan apa yang pernah dialaminya dulu. Namun perilaku anak tersebut berubah di kemudian hari seperti menjadi pendiam, penakut, atau justru malah agresif dan menyimpan rasa takut sekaligus benci kepada ayahnya.

Apa yang terjadi setelah  kita merepressi masalah?

Menurut Freud, terdapat tiga hal yang tejadi setelah seseorang menekan peristiwa traumatisnya ke alam bawah sadar.

1. Di alam bawah sadar dorongan dan keinginan yang ditekan tetaplah tidak berubah

2. Dorongan dan keinginan mendesak masuk ke alam sadar dalam bentuk yang berbeda dari alam bawah sadar. Hal  ini justru menyebabkan kecemasan yang lebih besar dan sulit dikendalikan  oleh yang mengalaminya. Pada akhirnya, orang tersebut akan larut dalam rasa cemasnya sendiri.

3. Dorongan dan keinginan yang ditekan tersebut diekspresikan dalam bentuk lain. Jika dibiarkan terus menerus, repressi akan berbahaya bagi kesehatan mental seseorang. Dorongan dan keinginan yang ditekan dapat termanifestasikan lewat mimpi maupun salah ucap.

Kenangan masa lalu yang membuat tidak nyaman memang lebih baik untuk dilupakan, karena jika diingat akan membuka luka dan menyakitkan. Melupakan bukanlah pilihan yang buruk. Akan menjadi tidak baik ketika seseorang terlalu menekan dorongan, keinginan, harapan, dan ingatan ke alam bawah sadar dalam jangka waktu  terus menerus.  Hal ini dikarenakan repressi dapat membagi kesadaran dan ego sehingga memunculkan keperibadian yang disosiatif (lepas dari realita). Proses repressi juga menghalangi seseorang mencapai kesehatan mental, kebebasan emosi dan kegembiraan. 

Jangan sampai kecemasan menguasai  dan masuk ke alam bawah sadar dan merugikan diri sendiri. Belajar melepaskan, merelakan, memaafkan dan kuat dalam menghadapi semua masalah hidup adalah tugas kita. Hal itu wajib untuk di punyai agar menjadi pribadi yang sehat mental dan bahagia. 


_____________________________

Indah Rahim 

27 November 2020

#YukKembaliMembacaBuku

Buku membuat kita lebih bisa memaafkan

#YukAjakAnakBelajarMenulis








Komentar

Postingan Populer