Kebergantungan Yang Tidak Elegan
Bergantung adalah sebuah naluri yang sudah ada sejak bayi. Setiap orang memilikinya, tidak melihat siapakah dia. Itu merupakan faktor penting yang berhubungan dengan eksistensi dirinya. Menurut Yoon Hong Gyun dalam buku How To Respect MySelf, kebergantungan yang tidak elegan mempunyai 3 makna, yaitu:
- terlalu bergantung
- salah menentukan arah bergantung
- tidak mengakui bahwa diri senang bergantung
Orang yang terlalu bergantung akan selalu membutuhkan orang lain ataupun benda-benda. Mereka tidak bisa hidup sendirian, takut dikucilkan dari kelompoknya dan ditinggalkan kawan dan sahabat. Mereka merasa terus ketakutan akan di tinggal oleh orang yang mereka sayangi dan dambakan dan mereka juga selalu butuh pujian dan khawatir akan hinaan. Mereka juga bergantung pada "alat-alat" (berupa benda-benda yang diminati, status, jabatan bahkan harta, obat-obatan, makanan dan minuman yang digemari) dan mengatakan itulah sumber bahagia dan kepuasan, dan akhirnya candu dan bergantung disitu.
Kebergantungan yang tidak elegan seperti ini kebanyakan tidak diketahui dan diakui oleh pelakunya sendiri. Ia selalu mengatakan bahwa, "Bahagia ku karena dirimu", atau "Aku puas dan bahagia setelah memiliki ini dan itu". Perkataan guru kepada muridnya, "Nak, kalau kamu berubah, aku pasti akan lebih bahagia". Perkataan seorang siswa, "Aku merasa sedih karena tidak ada yang mendengarkan dan memperhatikan", Aku selalu kesepian dan teraniaya", "Aku akan senang jika gaji ku tidak segini", kata seorang pegawai dan lain-lain keluhan.
Contoh-contoh diatas menunjukkan bahwa kebahagiaan dan stabilitasnya pelaku tergantung pada suatu objek atau pada orang lain. Ia meletakkan kebahagiannya pada rasa kebergantungan terhadap orang lain dan benda-benda. Jika dalam perjalanananya gagal dan kecewa, akan mudah baginya menyalahkan orang lain atau benda yang yang tidak didapatnya. Dalam ilmu psikologi, hal ini disebut proyeksi. Dia akan hidup dengan mekanisme pertahanan diri seperti ini, mengeluh sepanjang hidupnya.
Sebaliknya, orang yang bergantung sekadarnya, paham kepada siapa akan bergantung, yaitu pada sesuatu yang layak dan jauh lebih kuat dan unggul daripada dirinya. Ia bergantung hanya pada sesuatu yang" besar" yang mempunyai kekuatan MAHA. Orang seperti ini bergantung secara elegan, merasa dengan sendirinya bahwa ia sedang bersandar pada Yang Maha Besar dan Maha Kuasa. Yaitu yang merasa kekurangan, lemah, tidak berdaya, mengakui keterbatasan dan selalu meminta pertolongan dan perlindungan dari Yang Maha itu, yaitu ALLAH SWT.
Orang yang "bergantung secara elegan" tidak berusaha menyelesaikan semua masalah sendirian dan juga tidak bergantung selain kepada Yang Maha Tempat Bergantung dan meyakini bahwa kebahagiaan dan kegagalan dalam hidup ditentukan pada keyakinan pada apa dan bagaimana ia bersandar.
___________________
Indah Rahim
Medan, 22 November 2020
Pandemic Time
#YukKembaliMembacaBuku,
Komentar
Posting Komentar