Lari
Tidak ada jalan keluar dari ruangan ini Dindingnya tinggi dengan lampu redup
Ada jendela namun penuh tiang besi dengan daun jendela yang terbuat dari kayu yang berat
Aku berusaha menembus dengan berteriak awalnya, memanggil
Berharap ada pasukan yang menolong dan melepaskan
Namun tak seorang pun peduli
Kemudian ku coba dengan kasar pertahanannya
Keluarkan semua tenaga dan peralatan yang ada. Gergaji, pisau, martil bahkan batu ku gunakan.
Nihil satu
Yang ada lelah
Diam lama ku perhatikan sisi-sisi dinding Mengamati kembali, adakah celah yang bisa di gunakan untuk lari
Warnanya putih bersih namun udara ruangan ini semakin lembab oleh nafasku Ataukah di atap ini pintu pelarianku? Ku lihat sisi atas.
Nihil dua
Kemudian bersama waktu aku mengalami kenihilan berulang
Menjadi tua dan semakin lemah tak bertenaga
Suatu pagi, saat daun jendela berat ini kubuka, seperti biasanya, kuamati sibuknya dunia. Pohon kecil di depan sudah menjulang tinggi, daun-daun berguguran, bunga di sekitarnya juga mekar. Wanginya sampai ke hidungku. Udara juga cerah sehabis hujan, bahkan taman yang jauh namun kelihatan mataku kelihatan indah. Ku lihat ke langit, burung bebas berkicau. Kelihatan bahagia bekejaran. Anak-anak yang melintasku juga tertawa saat memulai aktivitas mereka. Semua bahagia
Waktu dan kondisi membuatku berpikir ulang soal makna bahagia
Mungkin aku juga harus bersyukur dengan kondisi yang tidak mungkin bagi ku untuk lari.
Nyatanya aku tidak bisa pergi.
Mungkin cukup bagiku melihat semua hal dari jendela besi ini
_________
Indah Rahim
Medan Abadi 9 Oktober 2019 #YukKembaliMembacaBuku
Bukulah teman terbaik pelarian
Komentar
Posting Komentar