Bertahan Hidup

"Kemarin terasa seperti masa lalu yang jauh,
Hari ini seperti asing dan besok sangat menakutkan
Kita harus punya cara menyesuaikan diri dengan kehidupan yang sangat cepat berubah".

Kata-kata diatas adalah cuplikan sebuah drama terkenal yang baru saya tonton. Renungan artis utamanya, seorang putra bangsawan. Timbul karena rasa khawatirnya yang besar terhadap keselamatan diri dan orang- orang yang di sayanginya atas rezim kenegaraan yang berkuasa saat itu. Dia berpikir keras bagaimana bisa bertahan hidup dengan situasi bahaya ini. Rasa ingin tahu mencari cara bertahan hidup lebih besar menguasai dari pada rasa takutnya

Dalam kehidupan yang sebenarnya, kita juga harus mencari cara bagaimana bertahan hidup. Kesulitan datang seperti debu yang membuat sesak. Membuat lelah. Tak bisa di hindari karena itu syarat naik tingkat. Seperti bermain game Zuma. Jika tidak mampu di tingkat satu maka jangan harap naik level kedua.
Tak bisa lari bukan hanya karena kita harus menyelesaikannya , tapi juga karena kita bukan tipe pecundang.

Dalam lanjutan drama tersebut, ada percakapan yang menarik kemudian, ketika si putra bangsawan meminta pertolongan seorang ksatria ahli bela diri.

Putra Bangsawan: "Kondisi semakin mengkhawatirkan. Aku tidak meminta mu untuk melindungi ku, namun ajari aku kemampuan melindungi diriku sendiri. Ajari aku ilmu bela diri".

Ksatria: "Baik, aku akan mengajarimu tuanku. Namun ada syarat pertama untuk belajar, sebelum kita masuk tahap selanjutnya".

Putra Bangsawan: "Apakah itu?"

Ksatria : Mengambil nafas dalam, seolah sungkan mengatakannya, namun kemudian berkata cepat, "Tuanku, lepaskan jubah bangsawanmu ketika belajar. Dalam pembelajaran tidak di perkenankan setitik kesombongan", Kesombongan tidak akan pernah bertemu dengan ilmu kebenaran. Dia tidak akan pernah bersanding dengan ilmu melindungi diri yang benar".

Putra bangsawan tersebut terhenyak , merasa tertuduh kemudian marah mendengar jawaban itu. Dia memegang keras pedangnya, berancang siaga dan berkata berapi, "Aku bukanlah si sombong itu".
Diamati nya tajam ksatria di depannya. Berpikir sanksi apa yang akan di berinya atas kelancangan tersebut. Apakah perlu digunakannya perintah memenjarakan, hukum cambuk, atau menebasnya sekarang?

Tetapi bersamaan amarahnya terlintas cepat kewaspadaan dan kesadaran dalam pikiran sang bangsawan, bahwa perasaan marah itulah saat-saat jubah bangsawannya masih terpakai. Ingin menghukum adalah bentuk kesombongan dan merasa berhak melakukan apa saja karena dihina.

Amarahnya perlahan mereda dan berkata pelan berhati-hati

Putra Bangsawan: "Apakah maksudmu, ketika aku tidak jadi menghukum kelancanganmu, berarti aku sudah melepas jubahku? Sama kah artinya berarti aku sudah bisa mengendalikan diri dan bersabar terhadap amarahku dan mengizinkan mu memberi penjelasan?"

Ksatria: "Kemudian kita bisa melanjutkan pembelajaran tuanku ", tersenyum sambil membungkuk hormat.

Sang putra bangsawan menyadari bahwa dalam percakapan sederhana mereka, ksatria mengajarkan nya cara bertahan hidup dan bagaimana melindungi diri sekaligus. Ksatria mengajarkannya sebuah ilmu yang paling penting, yang paling mendasar.

Sebuah drama yang seru.

_____________
Indah Rahim
Abadi Medan ( Maret 2019) #YukKembaliMembacaBuku
Karena buku mampu memberitahu cara-cara bertahan hidup

Komentar

Postingan Populer